Flare-flare kelas X!

Diterjemahkan dari berita STCE.

DIPERBARUI – Untuk postingan lebih lama, silakan gulir ke bawah

PEMBARUAN 10 November 2025 pukul 12:3 UTC – PESAN PERINGATAN CEPAT ‘PRESTO‘ dari SIDC (RWC-Belgia): “Sebuah flare Matahari X1.2 memuncak pukul 09:19 UTC tanggal 10 November dan berasal dari Grup Bintik SIDC 687 (Daerah aktif (AR) NOAA 4274). Daerah aktif tersebut , berada di N24 W15, memiliki konfigurasi magnet beta-gamma-delta dan klasifikasi McIntosh Ekc. Mengingat ukurannya yang besar, kompleksitas, dan aktivitas terbarunya yang kuat, termasuk sebuah flare kelas X tanggal 09 November 2025, flare signifikan tambahan masih mungkin terjadi. Dalam beberapa jam ke depan kita akan mengetahui apakah peristiwa ini disertai lontaran massa korona. Rincian lebih lanjut akan menyusul ketika data koronagraf sudah tersedia.

Flare tersebut merupakan peristiwa berdurasi panjang (berlangsung lebih dari 1 jam) dan disertai oleh peristiwa proton yang sedang berlangsung (proton dengan energi 10 MeV atau lebih) (GOES). fluks proton dengan energi 100MeV atau lebih saat ini masih berada pada tingkat latar belakang. Tampilan erupsi seperti diamati dalam H-alfa (garis di baggian merah spektrum Matahari; GONG) dapat dilihat di bawah ini. Sama seperti peristiwa kelas X kemarin, flare ini tampaknya dipicu oleh ketidakstabilan filamen di sebelah utara bagian utama bintik yang berada di belakang.

Semburan radio dideteksi oleh stasiun astronomi radio di Humain (HuRAS) yang mencatat semburan radio tipe II, III, dan IV (lihat halaman Klasifikasi SWx STCE), seperti ditunjukkan pada spektrogram radio di bawah dengan sumbu mendatar menunjukkan waktu dan sumbu tegak menunjukkan frekuensi (frekuensi terendah di atas). Bagan atas menunjukkan evolusi fluks sinar-X lunak yang direkam oleh GOES. Intensitas semburan radio sangat menonjol pada frekuensi ultratinggi rendah (UHF; 300-3000 MHz), dengan puncak pada 130.000 sfu (610 MHz) dan 2100 sfu pada frekuensi GNSS (1415 MHz; NOAA/USAF). Intensitas pada frekuensi terakhir tersebut lebih lemah dibandingkan selama flare kelas X kemarin.

Berdasarkan analisis semburan radio Tipe II dan Tipe IV yang terkait, sebuah lontaran massa korona dengan kecepatan kejut sekitar 1300 km/detik berkaitan dengan erupsi ini (NOAA/USAF). CME itu sendiri juga jauh lebih cepat dibandingkan CME kemarin, masing-masing dengan kecepatan bidang langit sekitar 700 dan 1100 km/detik. Citra koronagraf dari STEREO-A dengan jelas menunjukkan CME yang mengarah ke bumi. Masih harus dilihat kapan tepatnya CME ini akan mencapai lingkungan bumi, dan apakah CME ini akan menyusul CME kemarin yang lebih lambat, yang saat ini diperkirakan tiba pada awal 12 November. Menunggu analisis lebih lanjut dari prakirawan SWx SIDC.

Flare kelas X memengaruhi bagian frekuensi rendah pada pida komunikasi frekuensi tinggi (HF Com; 3-30 MHz) di sisi siang Bumi, terutama meliputi bagian barat Samudera HIndia dan Afrika Tenggara. Sebuah peringatan kepada penerbangan sipil telah diterbitkan (PECASUS). Peristiwa proton yang sedang berlangsung dapat (secara ringan) memengaruhi komunikasi HF meliputi daerah kutub, khususnya meliputi Antartika. Efek flare X1 dan peristiwa proton terhadap HF Com dapat dilihat pada peta D-RAP di bawah (NOAA/SWPC).

PEMBARUAN 9 November 2025 pukul 09:45 UTC – Daerah aktif NOAA 4274 (Grup Bintik SIDC 687) menghasilkan flare kelas X kedua pagi ini. Mengacu pada peringatan PRESTO SIDC, “Sebuah flare X1.7 dideteksi pada data fluks sinar-X GOES 19 memuncak pada pukul 07:33 tanggal 09 November. Flare tersebut berkaitan dengan Grup Bintik SIDC 687 (Daerah Aktif NOAA 4274). Fluks proton lebih dari 10 MeV tetap berada di tingkat latar belakang. Peristiwa flare kelas M dapat diharapkan dihasilkan dari daerah aktif ini dengan peluang terjadinya flare kelas X lainnya.” Menariknya, flare terjadi sedikit ke timur dari bagian belakang NOAA 4274, bukan di atas bagian depan yang jauh lebih kompleks dan dinamis. Hal ini ditunjukkan pada gabungan SDO/AIA 131 dan cahaya tampak GONG di bawah ini, diambil sekitar pukul 07:30 UTC, yaitu dekat waktu puncak flare. Pola difraksi pada citra EUV merupakan artefak citra, dan tidak terkait dengan flare itu sendiri – Lihat butir berita STCE ini untuk informasi lebih lanjut. Komunikasi Frekuensi Tinggi (HF) mengalami gangguan di sisi siang Bumi (D-RAP; Peta), khususnya meliputi Samudera Hindia. Peringatan mengenai gangguan HF Com telah dikirimkan kepada penerbangan sipil oleh PECASUS.

Berdasarkan analisis semburan radio yang terkait, sebuah lontaran massa korona dengan kecepatan kejut sekitar 800 km/detik dikaitkan dengan erupsi ini (NOAA/USAF). Mengingat lokasi NOAA 4274 yang dekat dengan meridian tengah, sangat mungkin bahwa (sebagian) CME ini mengarah ke Bumi. Menunggu analisis lebih lanjut dari prakirawan SWx SIDC. Semburan radio juga terdeteksi oleh stasiun astronomi radio di Humain (HuRAS), yang merekam semburan radio Tipe II, Tipe III, dan kemungkinan juga Tipe IV (lihat halaman Klasifikasi SWx STCE), sebagaimana ditunjukkan pada spektrogram radio di bawah ini dengan sumbu mendatar menunjukkan waktu dan sumbu tegak menunjukkan frekuensi (frekuensi terendah di atas). Perhatikan beberapa efek interferensi akibat terbit matahari. Bagan teratas menunjukkan evolusi fluks sinar-X lunak sebagaimana direkam oleh GOES. Pandangan yang lebih jelas mengenai semburan Tipe II dan Tipe III disediakan pada spektrogram radio Learmonth (perhatikan sumbu tegak terbalik, dengan frekuensi tertinggi di atas). Semburan radio sangat menonjol pada frekuensi ultratinggi rendah (UHF; 300–3000 MHz), dengan puncak semburan mencapai 120.000 sfu (610 MHz) dan 12.000 sfu pada frekuensi GNSS (1415 MHz; NOAA/USAF). Intensitas ini kemungkinan menyebabkan beberapa masalah komunikasi pada frekuensi tersebut.

PEMBARUAN 4 November 2025 pukul 22:45 UTC – Matahari menghasilkan flare kelas-X kedua, hanya beberapa jam setelah peristiwa X1.8 yang dibahas di bawah. Flare X1.1 ini mencapai puncak pada pukul 22:02 UTC. Namun, flare tersebut bukan berasal dari NOAA 4274, melainkan daerah aktif di belakang tepi tenggara Matahari, seperti yang terlihat pada citra GOES/SUVI di bawah ini, menunjukkan flare dalam ultraviolet ekstrem (EUV) di dekat waktu puncaknya: kiri pada temperatur sekitar 80.000 derajat, dan di kanan pada temperatur beberapa juta derajat. Pola-pola difraksi pada citra EUV merupakan artefak citra, dan tidak berkaitan dengan flare tersebut – Lihat butir berita STCE ini untuk informasi lebih lanjut. Peristiwa proton dari erupsi ini kecil kemungkinan terjadi karena posisinya, dan setiap lontaran massa korona (CME) yang terkait dengannya sangat mungkin tidak mengarah ke Bumi. Informasi lebih lanjut akan diberikan oleh prakirawan SID saat daerah aktif tersebut berotasi melewati tepi timur.

Flare kelas-X memengaruhi porsi frekuensi rendah pada pita komunikasi Frekuensi Tinggi (HF Com; 3-30 MHz) terutama meliputi Samudera Pasifik dan Selandia Baru. Efek flare X1 terhadap HF Com dapat dilihat pada peta D-RAP (NOAA/SWPC). Peringatan kepada penerbangan sipil telah diterbitkan (PECASUS).

Berita Asli 4 November 2025 pukul 20:45 UTC – Daerah aktif NOAA 4274 (Grup Bintik SIDC 687) adalah kembalinya NOAA 4246 yang produktif menghasilkan flare. Daerah aktif itu adalah sumber dari 27 flare kelas-M selama pergerakannya melintasi piringan Matahari dari 10 hingga 19 Oktober (lihat butir berita STCE ini). Ketika ia berada di sisi jauh Matahari, ia terus-menerus menghasilkan erupsi-erupsi kuat, berdasarkan banyaknya lontaran massa korona (CME) yang diamati. CME_CME itu jelas mengarah menjauhi Bumi. Namun, sekarang daerah aktif tersebut telah kembali dan masih tetap sangat aktif: Ia sudah mendapatkan nomor baru, tetapi jelas masih mempertahankan kebiasaan lamanya karena baru saja menghasilkan sebuah flare kelas-X.

Erupsi ini dicatat sebagai flare X1.8 yang mencapai puncak pada 17:34 UTC tanggal 4 November (GOES). Citra SDO di atas menunjukkan NOAA 4274 dalam cahaya tampak (kiri) begitu pula dengan struktur magnetnya yang kompleks (kanan; putih menunjukkan garis-garis medan keluar dari permukaan Matahari, hitam merepresentasikan garis-garis medan magnet yang kembali ke Matahari). Daerah aktif tersebut memiliki struktur delta (lihat klasifikasi Mount Wilson) yang digabungkan dengan ukuran daerah aktif yang relatif besar, dapat menghasilkan flare yang sangat kuat.Citra GOES/EUVI berikut menunjukkan flare dalam ultraviolet ekstrem (EUV) dekat waktu puncaknya: kiri pada temperatur sekitar 80.000 derajat, dan di kanan pada temperatur beberapa juta derajat. Pola-pola difraksi pada citra EUV adalah artefak citra, dan tidak berkaitan dengan flare tersebut – Lihat butir berita STCE ini untuk informasi lebih lanjut.

Citra koronagraf oleh STEREO-A – yang sekarang mendahului Bumi sekitar 49° (peta)- menunjukkan sebuah CME yang relatif cepat dan lebar, dengan laju awal sekitar 800 km/s dan lebar sekitar 100°. Melihat lokasi NOAA 4274 pada piringan Matahari, hal ini menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan kecil lingkungan Bumi dapat menerima hantaman samping dari CME ini, meskipun lubang korona di dekatnya (SolarMap) mungkin dapat membelokkannya lebih jauh dari Bumi. Analisis lebih lanjut dan citra dari koronagraf SOHO/LASCO diperlukan sebelum prakirawan SWX SIDC dapat membuat keputusan akhir. Tetap pantau untuk pembaruan.

Belum ada peristiwa proton yang diamati, dengan fluks proton lebih dari 10 MeV tetap mendekati level latar belakang (GOES). Sedikit peningkatan fluks radio pada berbagai frekuensi telah diamati (NOAA/USAF). Fluks radio Matahari 10.7cm pada 18 UTC juga terpengaruh, hampir 40% lebih tinggi dibandingkan nilainya pada hari-hari sebelumnya (Pentincton, Kanada; 183 sfu dibandingkan dengan 133 sfu). Radiospektrogram di bawah diperoleh oleh stasion eCallisto di Meksiko dan menunjukkan semburan radio tipe III yang kuat antara 17:24 dan 17:28 UTC. Semburan tipe II dan tie IV tidak terlalu jelas, jika memang ada (lihat halaman Klasifikasi SWx SIDC). Catat bahwa lebar pita stasiun ini cukup sempit, hanya merentang sekitar 40 MHz. Sumbu mendatar menunjukkan waktu (dari 17:14 sampai 17:59 UTC), sumbu tegak adalah frekuensi, dengan nilai tertinggi di atas. Flare dimulai (dalam sinar-X lunak) pada 17:15 UTV, mencapai puncak pada 17:34 UTC, dan berakhir pada 17:51 UTC.

Flare kelas-X memengaruhi porsi frekuensi lebih rendah pada pita komunikasi Frekuensi Tinggi (HF Com; 3-30 MHz) terutama meliputi Amerika Selatan dan bagian timur Samudera Pasifik. Efek flare X1 terhadap HF Com dapat dilihat di peta D-RAP berikut ini (NOAA/USAF). Peringatan untuk penerbangan sipil telah diterbitkan (PECASUS). Melihat ukuran dan struktur magnet kompleks saat ini, NOAA 4274 kemungkinan menghasilkan lebih banyak flare kuat selama beberapa hari ke depan.

Dikirim oleh JJ pada Selasa 4 November 2025 pukul 21:52

Perkembangan Siklus Matahari 25

Dierjemahkan dari berita STCE

Laman SC25 Tracking milik STCE telah diperbarui untuk mencerminkan evolusi terbaru dari beberapa parameter cuaca antariksa yang penting bagi siklus Matahari 25 (SC25) yang sedang berlangsung. Pembaruan ini mencakup berbagai aspek cuaca antariksa, mulai dari bilangan bintik Matahari, indeks geomagnet, hingga sinar kosmis. Grafik yang disajikan memungkinkan perbandingan antara siklus Matahari yang sedang berlangsung dengan siklus-siklus sebelumnya pada tahap evolusi yang serupa.

Grafik di bawah menunjukkan bilangan bintik Matahari bulanan dan rata-rata halus dari SILSO (SIDC/SILSO) mulai sekitar awal SC23 hingga SC25 saat ini. Prediksi siklus Matahari 25 yang dimulai bulan Desember 2019 ditampilkan dengan warna hijau. Mengikuti aktivitas matahari yang tinggi pada 2023 dan 2024, bilangan bintik bulanan halus mencapai maksimum sebesar 160.9 pada Oktober 2024. Dengan demikian, maksimum SC25 berada di atas prediksi awal oleh SC25 Panel (115), tetapi juga berada di bawah SC23 yang tergolong cukup kuat (180.3). Sejak maksimumnya pada akhir 2024, aktivitas matahari keseluruhan telah menurun secara bertahap. Selama empat bulan terakhir, yaitu dari Juni hingga September 2025, tercatat hanya dua flare matahari kelas X dan satu badai geomagnet yang sangat kuat. Walaupun begitu, hampir dapat dipastikan bahwa dalam 2-3 tahun ke depan akan terjadi beberapa episode peningkatan aktivitas matahari dan geomagnet yang signifikan.

Mengikuti aktivitas tinggi tahun lalu, banyak parameter lain, seperti fluks radio 10.7 cm dan jumlah peristiwa proton sekarang menunjukkan tren penurunan. Sebaliknya, beberapa parameter lain menunjukkan peningkatan secara keseluruhan. Salah satu contohnya adalah peningkatan fluens elektron dengan energi lebih dari 2 MeV, setelah meningkatnya jumlah lubang korona dan aliran angin matahari berlaju-tinggi yang menyertainya. Contoh lainnya adalah jumlah dilamen dan prominensa matahari, yang tetap berada di level tinggi. Tahun 2025 sejauh ini telah mencatat beberapa erupsi prominensa spektakuler. Prominensa matahari adalah awan partikel bermuatan (“plasma”) di atas permukaan matahari yang terhimpit di antara daerah magnet dengan polaritas yang berlawanan. Karena lebih dingin dan lebih rapat dibandingkan plasma di bawah dan di sekitarnya, prominensa tampak sebagai gumpalan terang ketika diamati di dekat tepi matahari dan tampak sebagai garis-garis gelap ketika diamati pada piringan matahari (dalam hal ini disebut “filamen”). Semakin besar (semakin panjang) struktur tersebut, semakin besar kemungkinan mereka akan mengalami erupsi. Filter khusus dibutuhkan untuk mengamatinya, seperti dalam garis Hidrogen-alfa (H-alfa) di bagian merah spektrum matahari, atau dalam beberapa pita panjang gelombang ultraviolet ekstrem (EUV). Citra di bawah menunjukkan erupsi filamen terbaru pada 30 September, diabadikan oleh instrumen GOES/SUVI. Lontaran massa korona yang menyertainya tidak mengarah ke Bumi.

Lubang korona melakukannya lagi!

(Artikel ini diterjemahkan dari berita STCE tertanggal 6 Oktober 2025)

Lubang korona (CHs/coronal holes) adalah daerah di atmosfer Matahari yang panas (korona) dengan kerapatan plasma yang sangat rendah pada temperatur tersebut dibandingkan dengan sekelilingnya, sehingga mereka tampak seperti bentuk gelap ketika diamati dalam ultraviolet ekstrem (EUV/extreme ultraviolet). Karena terhubung ke medan magnet unipolar (yaitu ‘terbuka’) yang merentang ke lingkungan antariksa, lubang korona menjadi sumber angin Matahari laju-tinggi yang dapat memicu gangguan geomagnet. Para prakirawan cuaca antariksa di SIDC dari Observatorium Kerajaan Belgia memberikan nomor kepada tiap CH yang muncul di Matahari (tautan). Citra EUV SDO tanggal 29 September dan 1 Oktober di bawah ini, menunjukkan dua CH demikian ketika melintasi meridian pusat Matahari: CH 128 SIDC di belahan utara matahari, dan CH 123 SIDC yang sangat memanjang di belahan selatan. Kedua CH ini memiliki polaritas positif, artinya garis-garis medan magnet terbuka mengarah menjauhi Matahari.

Aliran angin Matahari kerapatan-rendah laju-tinggi yang terkait, tiba pada 30 September, dengan laju angin mencapai sekitar 800 km/s (kurva kuning pada grafik DSCOVR di bawah ini). Badai geomagnet yang ditimbulkan mencapai level kuat (Kp = 7; panel bawah). Di Belgia terjadi level badai menengah (K_BEL = 6).

Laju angin Matahari stabil di atas 500 km/s dari 30 September hingga 5 Oktober. Hal ini memberikan kondisi yang mendukung untuk meningkatkan jumlah elektron energetik (energi lebih dari 2 MeV) secara signifikan. Partikel ini diketahui memiliki efek merugikan terhadap operasional satelit. Ambang peringatan sebesar 1000 pfu (satuan fluks partikel) telah tercapai pada akhir 1 Oktober (GOES). Ini akhirnya akan mencapai 30.000 pfu selama hari-hari berikutnya, seperti yang dapat dilihat pada grafik GOES di bawah ini. Waktu (hari) ditunjukkan pada sumbu mendatar, fluks elektron -jumlah elektron yang sangat energetik (energi ≥ 2 MeV) per cm2 per detik dan per steradian- ditunjukkan pada sumbu tegak (logaritmik). “M” dan “N” menunjukkan “Midnight” (tengah malam) dan “Noon” (tengah hari) lokal untuk satelit GOES-19 dan GOES-18.

Menariknya, fluks proton yang diukur oleh GOES-18 (grafik bawah pada gambar di atas) juga menunjukkan peningkatan regular. Biasanya hal ini mengindikasikan peristiwa flare kuat di Matahari ketika partikel yang sangat energetik terkadang dilepaskan. Kali ini tidak demikian. Waktu reguler peningkatan fluks proton harian mengungkap semuanya. Tentu saja, waktunya memuncak sekitar 20:00-21:00 UTC, bertepatan dengan waktu siang lokal untuk satelit GOES-18 (ditunjukkan oleh garis-garis putus-putus vertikal yang menghubungkan grafik fluks elektron dengan fluks proton). Ini adalah waktu ketika GOES-18 melintasi porsi paling rapat di sabuk radiasi luar. Ternyata, instrumen pengukur fluks proton di GOES-18, khususnya kanal yang mengukur fluks proton dalam pita energi antara 12 dan 25 MeV (Kress dkk. 2021), sensitif terhadap peningkatan fluks elektron yang sangat energetik. Seperti yang ditulis NOAA dalam laporan pengguna data mereka dari tahun 2023 (tautan):

SGPS-X dan +X P5 terkontaminasi oleh elektron ketika fluks sabuk radiasi meningkat. Besaran kontaminasi sangat kecil dibandingkan dengan fluks proton Matahari selama perisitwa SEP menengah

SGPS adalah “Solar and Galactic Proton Sensor” (Sensor Proton Galaksi dan Matahari), alat pengukur sebenarnya, +X dan -X mengindikasikan arah pandang sensor (ada dua), dan P5 adalah kanal pengukur fluks proton dengan energi antara 12 dan 25 MeV. Jelaslah bahwa efeknya hanya tampak pada kurva merah grafik proton (proton dengan energi lebih dari 10 MeV), dan bahwa efeknya memang kecil dibandingkan dengan peristiwa proton secara umum (ingat: skala logaritmik!). Nyatanya, efek ini tidak terlalu mengganggu jika Anda mengetahui penyebabnya.

Fakula kutub kembali!

Diterjemahkan dari laporan berkala STCE (11-17 Januari 2016).

Butir berita STCE tanggal 9 September 2015 membahas beberapa keanehan fakula kutub, titik-titik relatif terang yang kadang-kadang dapat dilihat di dekat kutub-kutub matahari. Pada citra SDO/HMI yang sangat kontras dari tanggal 11 Januari 2016 di bawah ini, dua panah merah menunjukkan fakula-fakula kutub ini. Ada perbedaan pandangan yang signifikan antara titik-titik lemah ini dengan fakula zona utama yang jauh lebih terang (biru putus-putus), begitu pula dengan bintik-bintik matahari yang jauh lebih besar dan lebih gelap (hijau).

Continue reading Fakula kutub kembali!

Saudara kelas M

Diterjemahkan dari laporan berkala STCE (28 Desember 2015-3 Januari 2016).

Dua peristiwa terkuat yang terjadi selama pekan lalu adalah dua flare kelas M. Mereka lahir dari daerah aktif NOAA 2473 yang juga bertanggungjawab atas sebagian besar flare kelas M pada pekan sebelumnya. Daerah aktif ini luasnya meluruh namun masih kompleks secara magnet selama transitnya di piringan matahari. Lalu bagaimanakah kedua flare menengah ini dibandingkan satu sama lain?

Di samping mereka memiliki grup bintik yang sama sebagai “ibu” mereka, kedua peristiwa ini memiliki beberapa kesamaan. Mereka memiliki kekuatan yang hampir sama, flare M1,8 memuncak pada tanggal 28 Desember pukul 12.45 UT dan flare M2,3 memuncak pada tanggal 2 Januari pukul 00.11 UT. Perbedaan waktu (siang vs. tengah malam) menunjukkan bahwa efek langsung terhadap komunikasi atau radar terjadi hampir pada bagian yang berlawanan di Bumi. Kedua flare ini berdurasi panjang, berlangsung masing-masing 196 dan 111 menit. Perhatikan bahwa waktu akhir adalah saat ketika tingkat fluks sinar-x meluruh hingga titik tengah antara fluks maksimum dengan tingkat latar belakang pra-flare. Oleh karena itu, ketika tidak ada daerah lain yang menghasilkan flare, kita dapat mengikuti penurunan fluks sinar-x meliputi bingkai waktu yang lebih panjang dibandingkan ketika akhir flare (lihat grafik di atas). Kesamaan lain adalah bahwa flare tersebut terjadi di lokasi yang hampir sama pada daerah aktif, yaitu di tengah bagian pengikut. Keduanya juga merupakan flare pita paralel, seperti yang dapat dilihat pada citra ultraviolet ekstrem (EUV) yang direkam SDO (penapis AIA 1600). Continue reading Saudara kelas M

Selamat ulang tahun SOHO!

Diterjemahkan dari laporan berkala STCE (23-29 November 2015).

Pada tanggal 2 Desember 2015, Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) akan merayakan ulang tahunnya yang ke-20. Sejak peluncurannya pada tahun 1995, wahana antariksa serbaguna ini telah menjadi ikon dalam penelitian matahari dan heliosfer dan telah menyediakan dasar yang kokoh bagi para peramal cuaca antariksa.

SOHO, sebuah proyek gabungan ESA/NASA, merevolusi pemantauan cuaca antariksa dengan menyediakan citra Matahari dalam white-light, empat panjang gelombang ultraviolet ekstrem, dan magnetogram dengan resolusi beberapa citra per jam. Koronagraf menyediakan pandangan mengenai sekeliling Matahari, memungkinkan pemantauan yang baik terhadap lontaran massa korona yang ditakuti. Lebih penting lagi, citra-citra ini tersedia hampir dalam waktu sebenarnya (near real-time), hal yang tak tampak sampai saat itu.

Instrumen-instrumen SOHO telah berkontribusi pada beberapa lingkup penelitian lain, seperti angin matahari (parameter, sumber) atau interior matahari (osilasi). Wahana antariksa ini juga adalah pengejar komet terbaik dalam sejarah, telah melakukan penemuan kometnya yang ke-3000 (tiga ribu!) pada beberapa bulan lalu (13 September 2015).

SOHO mengalami peristiwa mendekati-kematian pada tahun 1998 setelah kehilangan kendali pada tanggal 24 Juni. Untungnya, pengendali lapangan secara heroik telah mendapatkan kembali kontak dengannya dan mengendalikan wahana antariksa tersebut dalam beberapa bulan kemudian. Itulah periode dalam kala operasional SOHO tanpa citra dan dikenal sebagai “Liburan SOHO”. Pada akhirnya pekerja keras bagi para ilmuwan matahari dan spesialis cuaca antariksa ini telah digantikan oleh Solar Dynamics Observatory pada tahun 2010, yang memiliki resolusi dan jeda citra lebih tinggi. Namun, telemetri yang diperoleh dengan menghentikan pencitraan piringan matahari SOHO digunakan untuk mendorong jeda citra koronagraf menjadi satu citra tiap 12 menit, untuk kedua koronagraf. Itulah mengapa hingga saat ini SOHO tetap menjadi wahana antariksa yang mengirimkan citra koronagraf yang sangat penting.

Video di taut ini adalah seleksi kecil terhadap peristiwa-peristiwa paling spektakuler yang diamati SOHO.  Informasi lebih banyak, citra, kontes… dapat dilihat di situs web ini.  Ucapan selamat sebanyak-banyaknya kepada tim SOHO dan semua yang berkontribusi pada misi matahari yang sedang berjalan dan luar biasa sukses ini!

Kecupan selamat tinggal dari filamen untuk Matahari

Diterjemahkan dari laporan berkala STCE (9-15 November 2015).

Filamen matahari adalah awan partikel bermuatan (“plasma”) di atas permukaan matahari, terimpit di antara daerah magnet dengan polaritas yang berlawanan. Karena lebih dingin dan lebih rapat dibandingkan dengan plasma di bawah dan sekelilingnya, mereka tampak sebagai garis-garis gelap ketika diamati pada piringan matahari dan sebagai gumpalan terang ketika diamati dekat tepi matahari (dinamakan “prominensa”). Dibutuhkan penapis khusus untuk mengamati ciri-ciri ini, salah satunya adalah garis Hidrogen-alpha (H-alpha) di bagian merah spektrum matahari.

Continue reading Kecupan selamat tinggal dari filamen untuk Matahari

Pandangan GNSS pada semburan radio tanggal 4 November

Diterjemahkan dari laporan berkala STCE (2-8 November 2015).

Tanggal 4 November, Matahari menyembur dalam spektrum radio. Fluks F10cm yang diukur pada saat flare M2,5 (memuncak pukul 12.03 UT) adalah 3600 sfu (satuan fluks matahari), pada saat flare M3,7 (memuncak pukul 13.52 UT) adalah 1400 sfu. Di Humain, antena radio STCE menangkap sinyal yang meninggalkan sekelompok ilmuwan radio dan peramal cuaca antariksa bersemangat mendiskusikan kemungkinan dampak terhadap sinyal radar yang digunakan dalam penerbangan. Periksa label ‘Strong radio event on November 4’. Masyarakat GNSS (Global Navigation Satellite Systems) dari STCE menyaksikan juga saat-saat seru: semburan radio matahari yang berdampak pada aplikasi GNSS antara 14.00 dan 15.00 UT.

Lihat di taut ini.

Peristiwa radio yang kuat tanggal 4 November

Diterjemahkan dari laporan berkala STCE (2-8 November 2015).

Berita ini ditulis oleh Dr. Jasmina Magdalenic, ilmuwan di the Royal Observatory of Belgium.

Walaupun kita telah berada pada fase turun siklus matahari ini, Matahari agak sibuk pada tanggal 4 November. Tiga fenomena agak besar (flare kelas-M) diamati pada hari itu. Dua erupsi lebih kecil (yaitu M1,9 dan M2,5) berasal dari daerah aktif NOAA 2445, sedangkan yang terkuat, flare M3,7, berasal dari daerah aktif NOAA 2443 yang berada dekat pusat piringan pada saat erupsi. Kurva GOES pada gambar di bawah menunjukkan beberapa flare yang dicatat pada tanggal 4 November. Yang paling menonjol adalah tiga flare kelas M ukuran menengah (dengan intensitas maksimum di atas garis mendatar merah jambu). Ketiga peristiwa ini berasosiasi dengan emisi radio, namun emisi radio paling kompleks terkait dengan flare M3,7 berdurasi panjang.

Continue reading Peristiwa radio yang kuat tanggal 4 November

Peristiwa proton!

Diterjemahkan dari laporan berkala STCE (26 Oktober-1 November 2015).

Akhirnya, peristiwa proton lain di tahun 2015! Ini adalah peristiwa ke-4 dalam satu tahun ini, tiga lainnya masing-masing terjadi pada tanggal 18, 22, dan 27 Juni (Catatan 1). Dengan 23 pfu (Catatan 2), fluks proton  lebih besar dari 10 MeV (Catatan 3) hanya berupa peristiwa radiasi minor (Catatan 4). Peristiwa paling besar tahun ini terjadi pada tanggal 22 Juni (1070 pfu), dan peristiwa proton terkuat sejauh ini dalam siklus matahari 24 dicatat pada tanggal 8 Maret 2012 (6530 pfu, mengikuti sebuah flare X5 dari NOAA 1429 – Catatan 5).

Continue reading Peristiwa proton!

Dan pengaruhnya terhadap cuaca antariksa

Design a site like this with WordPress.com
Get started